SASTRA LISAN
Oleh:
USNIADIN
N1A614084
GENAP
PROGRAM STUDI TRADISI LISAN
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, karunia, dan kesempatan yang diberikan-Nya sehingga Makalah yang berjudul teka-teki di Wakatobi khusus di Tomia ini dapat penulis selesaikan. Makalah ini disusun guna untuk memenuhi tugas Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Sastra Lisan. Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan kita tentang cerita rakyat terutama asal usul nama suatu daerah ataupun tempat yang ada di Indonesia.
Selama penyusunan makalah ini, penulis masih menemui banyak hambatan dan kesulitan diantaranya disebabkan oleh keterbatasan waktu, bahan serta pengetahuan. Oleh karena itu, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, maka dari itu atas kesalahan serta kekurangannya penulis mohon maaf.
Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam proses penyusunan makalah ini. Semoga makalah yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kritik dan saran yang bersifat membangun juga sangat penulis harapkan.
Kendari, April 2016
Penulis
Cover dan judul i
Kata pengantar ii
Daftar isi iii
BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang....1
Tujuan.3
Masalah..3
Manfaat..3
E. Ruang lingkup3
BAB II PEMBAHASAN
Teka-teki....4
Penutur teka-teki6
Makna Teka-Teki Tomia..6
Fungsi teka teki dalam masyarakat7
BAB III SARAN DAN KESIMPULAN
Saran..8
Kesimpuan.8
Daftar Pustaka9
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sastra (sansekerta: shastra) merupakan bahasa serapan dari bahasa sansekerta sastra, yang berarti teks yang mengandung instruksi atau pedoman, dari kata dasar sas-yang berarti instruksi atau ajaaran. Dalam bahasa Indonesia, kata ini bisa digunakan untu meruju kepada kesusastraan atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.
am arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis dan sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa (Agni, 2008: 5).
Sastra lisan adalah bagian dari tradisi yang berkembang di tengah rakyat jelata yang menggunakan bahasa sebagai media utama. Sastra lisan ini lebih dulu muncul dan berkembang di masyarakat daripada sastra tulis. Dalam kehidupan sehari-hari, jenis sastra ini biasanya dituturkan oleh seorang ibu kepada anaknya, seorang tukang cerita pada para pendengarnya, guru pada para muridnya, ataupun antar sesama anggota masyarakat. Untuk menjaga kelangsungan sastra lisan ini, warga masyarakat mewariskannya secara turun temurun dari generasi ke generasi.
Sastra lisan sering juga disebut sebagai sastra rakyat, karena muncul dan berkembang di tengah kehidupan rakyat biasa. Sastra lisan ini dituturkan, didengarkan dan dihayati secara bersama-sama pada peristiwa tertentu, dengan maksud dan tujuan tertentu pula. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain berkaitan dengan upacara perkawinan, upacara menanam dan menuai padi, kelahiran bayi dan upacara yang bertujuan magis.
Sastra lisan sangat digemari oleh warga masyarakat dan biasanya didengarkan bersama-sama karena mengandung gagasan, pikiran, ajaran dan harapan masyarakat. Suasana kebersamaan yang dihasilkan dari sastra lisan berdampak positif pada menguatnya ikatan batin di antara anggota masyarakat. Dalam konteks ini, bisa dilihat bahwa sastra lisan juga memiliki fungsi sosial, disamping fungsi individual. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa memudarnya tradisi sastra lisan di masyarakat merupakan salah satu indikasi telah memudarnya ikatan sosial di antara mereka, dan sebaliknya.
Secara historis, jumlah karya sastra yang bersifat lisan lebih banyak dibanding dengan sastra tulis. Di antara jenis sastra lisan tersebut adalah pantun, peribahasa, nyanyi panjang, dodoi, koba dll. Gurindam, dongeng, legenda dan syair pada awalnya juga merupakan bagian dari tradisi lisan. Namun, perkembangannya mengalami perubahan ketika jenis sastra ini menjadi bagian dari kehidupan di istanaistana Melayu yang telah terbiasa dengan tradisi tulis. Sehingga gurindam, dongeng, legenda dan syair berkembang menjadi bagian dari tradisi tulis. Tampaknya, ini adalah bagian dari wujud interaksi positif antara sastra lisan dan tulisan. Dalam portal ini, berbagai jenis sastra lisan dibahas secara lebih rinci.
Kajian mengenai folklor dan sastra lisan sangaat menarik untuk diuraikan karena bermanfaat bagi dasar teori pengkajian sastra melayu klasik di Indonesia. Folklor, sastra lisan, dan sastra melayu klasik merupakan warisan turun-temurun yang senantiasa memberikan nilai pendidikan dan nilai budaya bagi generasi muda untuk mempertahankan jati diri daerah dan budayanya. Jati diri dan eksistensi itu menuntut dan mempertahankkan pelestarian dari generasi muda sekarang untuk lebih memasyarakatkan dan mencintai budayanya tersebut. Alhasil,tentu saja hal ini mmenuntut kesiapan mereka dalam mmenghargai dan mmenghormati budayanya tersebut.
Folklor hanya merupakan sebagian kebudayaan, yang penyebarannya pada umumnya melalui tutur kata atau lisan. Itulah sebabnya ada yang menyebutnya sebagai tradisi lisan. Menurut Danandjaja (dalam Rafiek, 2010: 52) tadisi lisan hanya mencakup cerita rakyat, teka-teki, peribahasa, dan nyanyian rakyat. Sedangkan folklor mencakup lebih dari itu, seperti tarian rakyat dan arsitektur rakyat.
Teka-teki dapat dianggap sebagai salah satu hasil sastra Melayu lama pada taraf permulaan, tetapi dapat pula dianggap sebagai salah satu jenis folklor Melayu. Sebagaimana kita ketahui folklor adalah cabang antropologi. Teka-teki dianggap sebagai salah satu cerita lisan. Pada kesempatan ini pembicaraan mengenai teka-teki ini dititikberatkan kepada cirinya sebagai salah satu hasil sastra.
Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah untuk mendeskripsikan teka-teki yang berada di pulau Tomia khususnya Kabupaten WAKATOBI dalam sastra.
Masalah
Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah teka-teki yang berada di Kabupaten WAKATOBI lebih khusus di daerah Toimia Suawei Tenggara dalam konteks sastra.
Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
Penulis dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang teka-teki
Pembaca dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang teka-teki dalam sastra.
Memberikan sumbangan informasi bagi penulis dalam membuat sebuah tulisan khususnya tulisan tentang sastra melayu klasik.
Ruang Lingkup
Makalah atau laporan ini hanya membahas tentang teka-teki yang berada di kepulauan Tomia yang berada di Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara.
Makalah ini penulis, mengunakan pendekatan penelitian berdasarkan informan dengan cara pengambilan data dengan menggunakan rekaman suara yang kemudian menjadi acuan dalam penyususnan laporan ini, yang tertuang menjadi sebuah karya sastra.
BAB II
PEMBAHASAN
Teka-Teki
Sebagaimana kita ketahui dalam teka-teki itu isinya atau maksudnya tidak dikemukakan secara langsung tetapi disuruh terka, disarankan atau disembunyikan.
Demikianlah dalam kesusastraan Tomia acapkali apa yang dimaksudkan itu tidak diucapkan dengan kata-kata yang tepat tetapi dikatakan dengan sajak atau dengan kiasan untuk disuruh terka dan artikan. Acapkali hal yang demikian itu berupa permainan dan godaan, pertunjukan kepandaian dan kegemaran. Seringkali pula hal itu dilakukan untuk memelihara perasaan orang lain untuk menakuti pembalasannya (Hooykas, 1952:3).
Maksud atau arti kalimat sering disembunyikan dengan kata-kata dalam suara yang sama. Kekasih diucapkan selasih, hati disembunyikan dalam kata jati. Dengan demikian lalu digubah ungkapan-ungkapan yang tersembunyi di dalamnya. Bentuk seperti inilah yang menimbulkan teka-teki.
Yang dimaksud dengan teka-teki sebagai hasil karya sastra di sini ialah teka-teki yang disusun dengan bahasa sastra. Dengan kata lain, tidak hanya isi atau maksud teka-teki itu saja yang dipentingkan, tetapi juga seni bahasanya. Winstedt juga menggolongkan teka-teki ini dalam dua bagian yaitu teka-teki yang bernilai sastra dan yang bukan sastra. (Winstedt, 1939:3).
Jenis teka-teki seperti ini telah dikumpulkan oleh O.T. Dussek dalam bukunya Teka-teki (Dussek, 1918). Dalam buku ini dijumpai bermacam-macam teka-teki dalam lingkungan dunia tumbuh-tumbuhan, senjata, alat-alat musik, binatang, alam, tentang kelahiran, perkawinan, kematian dan sebagainya.
Baiklah saya akan paparkan beberapa teka-teki yang berada di kawasan pulau Tomia Kabupaten Wakatobi, sesuai lapaoran hasil penelitian yang mengunakan metode perekaman pada informan, ada beberapa teka-teki yang termuat misalnya:
Teka-teki tentang buah
“Ngaengae kikiria”
Dalam penuturan teka-teki ini informan secara langsung memberikanya dengan harap agar bisa di uraikan dalam kelangsungan tradisi secara lisan kegenerasi penerus, dengan maksud agar tidak punah die rah modern sekrang ini dengan perkembangan jaman yang serba rerganti nilai tradisi.
Dalam teka-teki ini memiliki makna yang jika di artikan dalam bahas Indonesia ialah buah apa yang mirip dengan parut dan;
Fungsi dari terka atau teka-teki yang di maksud ini ialah menggambarkan sebuah alat parut, yang biasa di masyarakat Wakatobi sering mengelolah kelapa menjadi minyak kelapa khas daerah menggunakan alat parut.
Jawabnya: buah nangka
Teka-teki tentang hewan
Tekadadi haira tematano di aeno
Makna dari penuturan teka-teki ini memiliki arti dalam serapan bahasa Indonesia ialah hewan apa yang mepunyai mata di kakinya
Fungsi yang terkandung dari pengucapan teka - teki ini ialah memberikan sebuah pikiran Tanya bahwa hewan apa yang memiliki mata di kakinya, sehingga pemikiran rasional akan kita jawab ialah ayam, dimana ajam memiliki tumpukan kaki yang tajam jika hewan ini seagi berkeahi
Jawabnya: ayam jantan
Teka-teki tentang sindiran
“Wakka te watu leppe-leppe hadede, hadede”
Makna yang tertuang dalam teka-teki ini memiliki makana daam serapan bahasa Indonesia ialah mengangkat batu yang lempeng kesakitan. Ini menunjukan kepada orang yang sedang luka yang membuka balut lukanya yang mongering di tubuhnya.
Fungsi dari teka teki di atas ialah seorang yang sedang di sindir terhadap lukanya yang sudah mengering , namun tetap di kelupasi bekas lukanya , maka dengan maksud agar luka tersebut kering jagan lah kamu mengelupasnya.
Jawabnya: luka kering
Teka-teki tentang pertanyaan yang menggunakan apa?
“sa palenuhue ssabanee no bota
Makna yang terkandunga dalam terka teka-teki yang di maksud ialah satu keluarga botak semua, maksuda dari perumpamaan diatas ialah seorang ysng di beri teka-teki ini haris berpikir bahwa yang di maksud apa? Dan harus di jawab denga sebuah perumpamakan sebuah bendah atau apa yang bisa menjadi pendekatan dalam menjawabnya.
Fungsi dari terkaan teka-teki yang terkandunga di dalamnya, ialah menuntun penjawab untuk mengajarkan kita berpikir sesuatu yang bisa mendekatkan jawaban yang tepat untuk di raih jawabannya.
Jawabnya : korek kayu
Penutur Teka-Teki
Di dalam penelitian ini pembicaraan mengenai penutur teka-teki di dalam masyarakat dibagi atas tingkatan usia, tingkatan sosial, dan tingkatan pendidikan. Di dalam masyarakat, penutur teka-teki tidak terbatas pada tingkatan usia tertentu. Semua usia, mulai dari usia anak-anak sampai dewasa menjadi bagian dari penutur teka-teki ini. Walaupun dituturkan oleh semua kalangan usia, anak-anak merupakan penutur terbanyak. Pada usia ini pula berbagai teka-teki mereka kuasai. Seiring dengan pertambahan usia, teka-teki yang mereka kuasai akan semakin sedikit. Hal tersebut dikarenakan teka-teki itu sudah semakin jarang atau bahkan tidak pernah lagi dimainkan atau dituturkan.
Dalam penuturan teka-teki, tidak terdapat perbedaan antara masyarakat yang dapat dikatakan sebagai kelas atas ataupun masyarakat kelas bawah. Mereka sama-sama penutur teka-teki yang bentuknya tidak berbeda.Penutur teka-teki tidak dibedakan atas tingkatan pendidikan yang dimilikinya. Pada tingkatan ini perbedaan hanya ditemukan pada pembuatan teka-teki yang baru. Biasanya karena pengetahuan dan wawasan yang semakin luas, konsep, dan benda-benda sekitar yang dijadikan teka-teki juga semakin beragam dan kompleks. Akan tetapi, pada akhirnya teka-teki yang dibuat oleh orang terpelajar pun akan tersebar pada masyarakat yang tidak berpendidikan.
Makna Teka-Teki Tomia
Dalam penuturan teka-teki, tidak terdapat perbedaan antara masyarakat yang dapat dikatakan sebagai kelas atas ataupun masyarakat kelas bawah. Mereka sama-sama penutur teka-teki yang bentuknya tidak berbeda.Penutur teka-teki tidak dibedakan atas tingkatan pendidikan yang dimilikinya. Dari hasil penelitian laporan, informan yang di peroleh dengan hasil tinjauan tentang mengenai teka-teki daerah yang berasal dari kepulauan Tomia kabupaten Wakatobi provinsi Sulawesi Tenggara.
Hal ini pembahasan akan mengurai makna yang terkandung , yang telah di rekam kemudian hal ini penulis, paparkan makna dari sumber penutur yang merupakan masyarakat Tomia desa Usuku.
Uraian yang terkandunga dalam bahasa daerah ini saya akan coba mangartikannya dalam bahasa Indonesia walaupun dalam konotasi bahasa belum sempurna
Tani- taningku atau teka -teki
Kemudia penulis sudah paparkan dalam laporan ini perlu lagi dilakukan pembahsan atau pengertian dalam bahasa Indonesia, namun secara harfia makna yang terkandung di sajikan dalam bentuk yang diuraikan seperti berikut. namun arti dan ucapan dalam teka-teki ini sudah penulis uraikan dalam bentuk makna dan fungsi, dalam penulisan laporan ini. yang sudah terkandung dalam rekaman dari informan atau sumber teka-teki.
Beberapa uraian makna yang terkandung dalam tani-taningku atau teka-teki pulau Tomia.
Ngaeng-ngae kikiria
Ngaeng- gae memiliki arti sesuatu yang di gantung
Kikiria memiliki arti ialah alat parut
sehingga kalu di gabungkan dalam konotasi bahasa yang padu. Memiliki makna teke-teki ini adalah di gantng alat parut.
Rujukan dari teka-teki ini ialah buah nangkah yang dimaksud dalam terkaan tek-teki ini
Wakka te watu leppe-leppe
Wakka memiliki arti sesuatu yang di buka pada objek yang menempel.
Te watu memiliki arti batu
Hadede-hadede memiliki arti jeritan sakit pada objek
Rujukan dari terkaan teka-teki ini ialah luka yang di kelupasi seusai kering
No huukko te hair te inau
No huukko memiliki arti sesuatu pemberian
Tehaira memiliki arti Tanya apa?
Te inau memilikiarti orang tuamu
rujukan dari terkaan teka-teki ini ialah seuah kata Tanya apa? Sehingga jika di maknai apa yang di berikan oleh orang tuamu?
Jawabnya ialah sebuah nama.
Teka-teki ini sudah jarang di jumpai di kalangan masyarakat Tomia ini merupakan pengaruh perkembangan, yang menjadi punahnya hiburan rakyat yang juga di pengaruhi oleh perkembangan iptek yang berkembang hingga masuk di setipa wilayah atau pelosok negeri ini.
Adapun harapan yang disampaikan oleh penutur dalam urain, menghimbau kearifan dari teka-teki daerah ini sudah lajim di kalangan masyarakat sehingga dengan upaya masyarakat bagaimana membangun kembali kearifannya karena dalam dunia yang seperti ini sudah langkah atau punah yang bisa pertahankan nilai daerah dalam hal tani-taningku atau teka-teki, dengan harapan akan bisa di teruskan pada generasi penerusnya agar tidak di pengaruhi oleh perkembangan modern.
Fungsi Teka-teki dalam Masyarakat
Di dalam masyarakat teka-teki mempunyai fungsi seperti di bawah ini:
Berpikir dan Menyampaikan Pendidikan
Teka-teki terdiri atas dua bagian penting, yaitu bagian pertanyaan (topic) dan bagian jawaban (referent). Kedua bagian ini dapat dilihat hubungannya secara langsung, yaitu ketika teka-teki tersebut bersifat harfiah. Akan tetapi, seringkali pula teka-teki tersebut tidak dapat dilihat hubungannya secara langsung karena bersifat metaforis.
Teka-teki yang bersifat harfiah akan lebih mudah mencari jawabannya dibandingkan teka-teki yang bersifat metaforis. Akan tetapi, kedua bentuk teka-teki tersebut tetap saja memerlukan pemikiran untuk menemukan jawabannya. Bermain teka-teki menuntut para penutur dan penjawabnya untuk berpikir. Penutur atau orang yang memberikan pertanyaan teka-teki akan berusaha membuat teka-tekinya sulit dijawab oleh penjawab. Mereka akan mendapatkan kepuasan ketika teka-tekinya tidak dapat terjawab.
Hiburan
Waktu pelaksanaan bermain teka-teki ini cenderung pada waktu-waktu senggang atau sebagai perintang waktu. Oleh karena itu, ada kecenderungan fungsi teka-teki lebih bersifat hiburan dan pengisi waktu. Hal ini akan terlihat jelas pada teka-teki yang isinya terkesan bermain-main saja.
Menggoda
Di dalam masyarakat , teka-teki juga berfungsi untuk menggoda orang lain. Teka-teki dengan fungsi ini berhubungan dengan pemikiran orang mengenai sesuatu yang porno atau cabul, seperti seks.
BAB III
PENUTUP
Simpulan .
Teka-teki dapat dianggap sebagai salah satu hasil sastra pada taraf permulaan, tetapi dapat pula dianggap sebagai salah satu jenis folklor Melayu. Sebagaimana kita ketahui folklor adalah cabang antropologi. Teka-teki dianggap sebagai salah satu cerita lisan. Pada kesempatan ini pembicaraan mengenai teka-teki ini dititik beratkan kepada cirinya sebagai salah satu hasil sastra.
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa teka-teki merupakan salah satu hasil karya sastra Indonesia lama yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Teka-teki ini disusun dalam berbagai lapangan dan persoalan. Dengan demikian teka-teki ini cukup populer dan digemari oleh rakyat Tomia.
Saran
Dalam makalah ini masih banyak kekurangan maka dari itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca ataupun dosen pembimbing, agar kedepannya bisa menjadi lebih baik lagi dalam membuat makalah.
DAFTAR PUSTAKA
Agni, Binar. 2008. Sastra Indonesia Lengkap, Pantun, Puisi, Majas, Peribahasa, Kata Mutiara. Jakarta: Hi-Fest Publishing.
Dussek, O.T. 1918. Teka-teki.(part I). Malay Literature Series 1 (2).
Djamaris, Edwar. 1993. Menggalih Khazanah Sastra Melayu Klasik ( Sastra Indonesia Lama). Jakarta: Balai Pustaka.
Rafiek. 2010. Teori Sastra, Kajian dan Praktik. Bandung: PT Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar